September 07, 2010

Hukum Ramalan dalam Islam

Kalau ramalan cuaca yang sering kita lihat di TV, memang ilmiyah. Tapi kalau ramalan Mama Lauren dan orang sejenisnya, rasanya kok berlebihan kalau kita bilang ilmiyah, apalagi sampai dibilang bagian dari ilmu Psikologi segala.
Mungkin yang tepat bahwa fenomena seorang yang dianggap bisa melihat masa depan, memang pernah dijadikan salah satu kajian oleh para psikolog.
Tapi tidak bisa dikatakan bahwa ilmu meramal masa depan adalah cabang ilmu psikologi secara resmi. Para ahli Psikologi ketika kami konfirmasi tentang hal ini, mereka hanya menggelengkan kepala. ''Sejak kapan ilmu meramal masa depan jadi bagian ilmu Psikologi?", begitu bantah mereka.
Lepas dari apakah meramal itu bagian dari ilmu psikologi atau bukan, namun dalam pandangan aqidah Islam, tidak ada orang yang secara spesisik diberika ilmu tentang masa depan, kecuali nabi dan rasul. Itu pun kalau Allah SWT berkehendak saja.
Artinya tidak semua ilmu ghaib tentang masa depan diberian kepada semua nabi dan rasul. Buktinya, nabi Musa pun tidak tahu apa yang akan terjadi, hanya nabi Khidhir saja yang diberi ilmu seperti itu. Tentunya semua atas idzin Allah.

Hukum Ramalan dalam Islam

Meramal nasih tentu hukumnya haram bagi seorang muslim. Sebagaimana dalil hadits nabawi berikut ini.
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda, ”Barang siapa yang mendatangi tukang ramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah kufur apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (agama Islam). (HR Abu Daud, Bukhari, Ahmad dan Tirmidzy)
Bahkan Rasulullah SAW mengancam bahwa siapa yang mendatangi ahli ramal masa depan, shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari.
Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu hal dan membenarkan apa yang dia katakan, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.” (HR Muslim 4/1751)

Mendatangi Peramal = Kufur kepada Agama Islam 
 
Barangsiapa mendatangi Kahin (dukun), lalu membenarkan apa yang diucapkannya, niscaya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. (HR Abu Daud, at-Tirmidz Ibnu Majah, Ahmad dan ad-Darimi)

Sebab, di antara (ajaran) yang diturunkan kepada Nabi MuhammadSAW adalah bahwa hal-hal yang gaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah.

Allah berfirman:
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah." (QS An-Naml 65)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya selain Dia sendiri. (QS AI-An’am: 59)

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. (QS Jin: 26 - 27)
Bahkan Nabi Muhammad saw sendiri tidak mengetahui hal-hal ghaib kecuali yang diberitahukan Allah kepadanya melalui wahyu, karenanya Allah berfirman kepadanya:
Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bag’i diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah, dan sekiranya aku men getahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS Al-A’raf: 188)

Begitu juga jin, yang oleh para tukang sihir dan dukun dimintai pertolongan, mereka juga tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui hal-hal gaib. Al-Qur’an menceritakan bahwa jin-jin Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam tidak mengetahui kematian beliau.

Maka tatkala ia (Sulaiman ‘alaihis-salam) tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka men getahui yang ghaib, tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan. (QS Saba’: 14).

Karena itu, membenarkan para dukun dan peramal -yang mengaku mengetahui hal yang gaib- adalah pengingkaran (kufur) terhadap ayat-ayat yang telah diturunkan Allah.
Jika mendatangi dan membenarkan mereka demikian buruk kedudukannya dalam agama, maka bagaimana dengan para dukun dan peramalnya sendiri? Mereka telah melepaskan diri dan agama dan agama berlepas diri dan mereka, sebagaimana dalam hadits:
“Tidak termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur atau minta di-tathayyur, atau menjadi dukun atau minta dibuatkan perdukunan untuknya, atau menyihir atau minta disihirkan untuknya.” (HR Al-Bazzar dengan isnad jayyid)

Fenomane Tukang Ramal Ramai-ramai Ganti Bendera

Tahu kalau mendatangi peramal diancam hukuman keras seperti itu, para tukang ramal ramai-ramai ganti bendera dan merek dagang. Mereka lalu cari-cari istilah yang kelihatan keren, ilmiyah, masuk akal, atau agak berbau sains.
Tujuannya sudah bisa ditebak, yaitu agar tidak dianggap dukun atau tukang ramal kampungan, padahal sih cuma ganti kemasan saja. Isinya ya itu itu juga. Kasihan juga tuh ilmu Psikologi, sampai dibawa-bawa oleh para tukang ramal, lalu dibilang ilmu meramal nasib adalah bagian dari ilmu Psikologi.
Jangan-jangan nanti ada Fakultas Psikologi jurusan ilmu teluh, ilmu sihir, ilmu santet, ilmu kanuragan. Wah, gimana nih teman-teman Psikologi?

Kok Ramalannya Benar?
Kalau tidak benar namanya bukan tukang ramal. Ramalan tentang akan terjadinya Tsunami di Aceh atau meninggalnya Pak Harto seperti yang anda sebutkan, memang bukan hal yang aneh.
Karena memang ada penjelasan dari mana syetan itu mendapatkan informasi tentang masa depan.

No comments :

Post a Comment