November 20, 2010

Atur Privasi Sebelum Memajang Foto Anak Anda

Memajang foto diri sendiri, keluarga, dan kerabat dekat di blog atau situs jejaring sosial sering dianggap narsis, sekadar memuaskan hasrat menunjukkan diri sendiri kepada orang lain. Akan tetapi, riset terbaru justru menunjukkan bahwa 92 persen anak-anak Amerika Serikat berumur dua tahun kini sudah mejeng secara online di internet.
Riset dilakukan perusahaan pengamanan AVG dan dipaparkan Larry Magid di CNET.com. Magid adalah jurnalis teknologi dan penasihat penggunaan internet secara aman, khususnya memproteksi anak-anak dari pengaruh buruk internet. Riset juga menunjukkan, sepertiga ibu telah mengeposkan (mengunggah) foto saat bayi mereka baru saja lahir. Bahkan, yang lebih mengejutkan lagi, 34 persen ibu telah mengunggah sonogram anak mereka yang belum lahir!
Penelitian yang diprakarsai Research Now itu menyasar 2.200 ibu di AS, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Jepang selama sepekan pada 27 September lalu. Sayangnya, riset ini tak menyasar ibu-ibu di Indonesia. Menurut riset ini, orangtua di AS lebih sering berbagi foto bayi di internet dibandingkan dengan negara-negara lain. Sebanyak 73 persen orangtua di Inggris, Spanyol, Perancis, Jerman, dan Italia mengatakan bersedia berbagi foto bayi mereka di internet.
Menurut penelitian, rata-rata "kelahiran anak-anak digital" di seluruh dunia terjadi pada sekitar enam bulan saat mereka lahir. Sepertiga foto anak-anak tersebut bahkan dipajang secara online dua minggu setelah mereka dilahirkan. Tentu saja kebanggaan memiliki momongan bagi seorang ibu dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memajang foto anak atau bayi yang baru dilahirkan.
Pada masa ketika internet belum ditemukan, tetapi kamera saku sudah mewabah, foto bersejarah anak-anak yang mereka lahirkan dipublikasikan sebatas pada foto yang dibingkai dan dipajang di atas nach kast atau ditempel di dinding rumah. Akan tetapi, ketika ponsel pintar berkamera sudah mewabah dan hasilnya bisa langsung diunggah ke situs jejaring sosial, seperti Facebook, Flickr, atau YouTube, semakin banyak warga baru yang menyesaki dunia maya (internet). Kelahiran "bayi-bayi digital" di dunia nyata sebagai citizen berjalan paralel sebagai warga baru dunia maya sebagai netizen.
Pertanyaan yang sering terungkap saat riset menyangkut proteksi anak-anak terhadap pengaruh internet muncul: amankah menyimpan foto anak-anak sendiri di media online? Apakah tidak ada kekhawatiran para ibu bahwa mengunggah foto anak-anaknya di internet bisa disalahgunakan pihak lain? Katakan saja kemungkinan terjadinya jual-beli anak atau bahkan penculikan anak?
Chief Executive AVG JR Smith saat mengupas riset tersebut mengaku dapat dimaklumi mengapa orangtua merasa bangga dan ingin mengunggah serta berbagi foto anak-anaknya dengan teman dan keluarga. Namun, Smith mengingatkan para orangtua bahwa mereka telah menciptakan ”sejarah digital” bagi umat manusia yang akan mengikutinya di sisa hidup mereka.
Smith tak terlalu mengkhawatirkan bahaya memajang atau berbagi foto anak secara online, tetapi bagi orangtua penting untuk dipertimbangkan bahwa bayi mereka suatu hari akan jadi anak baru gede dan remaja, yang mungkin memiliki masalah dengan foto mereka yang dipajang di internet. Untuk itulah riset AVG juga mendorong perlunya orangtua mengatur privasi di profil situs jaringan sosial. Tidak semata di Facebook, tetapi juga situs lain, seperti Flickr, Picasa, dan YouTube.
"Semua situs jejaring sosial tersebut memiliki pengaturan privasi yang dapat membatasi siapa saja yang dapat melihat atau mengaksesnya. Selalu ada kemungkinan bahwa seseorang dengan akses yang dimilikinya dapat menyalin, menyimpan, atau meneruskan apa pun yang Anda unggah," ujar Smith.
Penduduk tanpa batas Memajang foto buah hati di situs jejaring sosial seperti Facebook bisa berdampak positif ataupun negatif. Positif karena mengungkapkan kebahagiaan memiliki momongan baru bisa diungkapkan secara mudah, murah, dan cepat. Sahabat, kerabat, dan keluarga dekat bisa langsung mengetahui telah lahirnya buah hati melalui Facebook atau MMS di ponsel pintar.
Memajang foto anak yang baru terlahir ke dunia juga bisa disebut menorehkan jejak sejarah kemanusiaan bahwa telah bertambah satu anggota umat manusia lahir ke dunia. Hampir mustahil seseorang memajang kematian anggota keluarganya di Facebook. Ini konsep dua permainan rasa yang berbeda: bahagia dan lara. Kebahagiaan seperti mendapat anak yang baru lahir layak di-share (dibagikan) kepada kerabat dan keluarga dekat. Lara atau kesedihan biasanya disimpan saja dalam hati, tidak untuk dibagikan di situs pertemanan.
Ketika perangkat yang memungkinkan mengakses internet sudah sedemikian murah dan mewabah dan menjadi alat sehari-hari seperti halnya ponsel kini, tak tertutup kemungkinan setiap ibu di seluruh pelosok dunia yang terjangkau sinyal telepon dapat dengan mudah mengunggah bayi yang baru dilahirkannya. Mungkin ini terjadi pada generasi berikutnya saat internet sudah benar-benar menyatu dalam kehidupan sehari-hari. Tak ada bayi lahir ke dunia yang tak terdeteksi saat mereka lahir, berkat prakarsa ibunya yang mengunggahnya di internet.
Mitch Joel, pakar pemasaran digital dalam buku Six Pixels of Separation yang ditulisnya, menjelaskan, pada dasarnya setiap manusia itu tersambungkan satu dengan lainnya. Ketersambungan dan keterhubungan umat manusia di dunia semakin mewujud saat media sosial dan situs pertemanan lainnya menjadi bagian gaya hidup warga dunia. Meski untuk konteks bagaimana seseorang dapat melakukan personal branding (pencitraan pribadi) melalui media sosial, buku ini juga dapat menjelaskan mengapa para ibu di AS—bahkan mungkin para ibu di Indonesia yang sudah melek internet—sangat berhasrat memajang foto anak-anak atau bayi mereka yang baru lahir di internet. Bukan dimaksudkan sebagai pencitraan pribadi bagi anak-anak mereka, tetapi sebatas ingin berbagi kebahagiaan saja melalui teknologi informasi yang bahkan bisa dilakukan saat para ibu untuk pertama kalinya melihat bayi merah mereka lahir di tempat persalinan.
Tentu saja yang harus diingat adalah nasihat Smith tadi, bahwa ada juga efek negatif menyimpan dan memajang foto anak-anak di internet. Jika ada protes dari anak-anak kelak saat mereka dewasa yang keberatan foto saat bayinya dipajang, itu sebenarnya ekses kecil saja, yang mungkin hanya terjadi di belahan Barat sana di mana privasi menjadi urusan utama. Apa salahnya menghapus file yang diunggah tersebut kalau anak yang baru gede itu kelak tidak menyukainya.
Akan tetapi, yang harus dipikirkan adalah kemungkinan kejahatan melalui internet (cyber crime) terhadap bayi merah yang baru dilahirkan atau anak-anak yang sedang lucu-lucunya, yakni kemungkinan terjadinya penculikan atau kejahatan seksual terhadap anak-anak yang fotonya secara terang-terangan dipajang di internet.
Jangan karena kebahagiaan tiada tara lalu buru-buru mengunggah foto bayi yang baru lahir atau anak-anak yang sedang lucu-lucunya di internet. Agar tidak terlambat, aturlah privasi di situs pertemanan Anda sehingga hanya orang-orang tertentu sajalah yang bisa mengakses foto anak-anak Anda!
 Source : www.kompas.com